WHAT DAKWAH IS
A PROBLEM SOLVER ?
“dakwah adalah
mengubah cara pandang umat dari suatu situasi ke situasi yang lain yang lebih
baik dalam segala segi kehidupan dengan tujuan merealisasikan ajaran islam
dalam kehidupan nyata sehari- hari, baik bagi kehidupan pribadi, keluarga,
maupun masyarakat, sebagai suatu keseluruhan tata kehidupan bersama”
(Abdul Munir
Mulkan)
Era
milenial yang lahir di tahun 1995-2000-an yang sudah dimudahkan dengan
kecanggihan teknologi, membuat manusia menjadi lebih cepat mendapatkan
informasi. Dimana revolusi industri 4.0 membuat banyak tantangan bagi pemuda
milenial untuk melakukan kreativitas dan inovasi yang sangat dibutuhkan agar
bisa bersaing di zaman sekarang dengan menggabungkan antara hard skill
dan soft skill.
Bagaimana
dengan dakwah milenial ? para milenial sekarang menjadi taat beribadah atau
bahasa viralnya berhijrah hanya melihat video di internet dengan ustadz
atau ustadzah yang mereka sukai membuat mereka menjadi alim. padahal Imam Asy
Syafi’i ra mengatakan “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang
yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar
yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu.” Maraknya video untuk
mengajak hijrah tidak salah, tapi yang ditakutkan adalah ketika melihat video
tersebut manusia menjadi salah kaprah, maka dibutuhkannya seorang guru untuk
membimbing agar tidak mudah untuk menghalal-haramkan segala sesuatu.
Dakwah
acapkali hanya dipahami sebagai persoalan ibadah yang pemaknaannya hanya
sebatas vertikal pada pola hubungan hamba dengan Tuhan. Sehingga penyebaran
dakwah yang terjadi di masyarakat lebih banyak menyoroti persoalan ibadah
kepada Allah Swt.
Islam
sebagai agama yang rahmatan lil-alamin yang bersifat universal,
semestinya mampu menjadi problem solver seperti ketidak-adilan,
penindasan, kesewenang-wenangan, dan kemiskinan yang terjadi di tengah- tengah
masyarakat sehingga kita tidak kehilangan orientasi horizontalnya dalam menjaga
hubungan dengan sesama manusia.
Rasulullah
sebagai problem solver mengajak manusia kepada kebaikan dengan cara yang
bijaksana, lemah lembut sesuai dengan yang dijelaskan dalam surah an-nahl ayat
125 bahwa untuk menyampaikan sesuatu harus dengan bijaksana dan jika terjadi
perdebatan maka berdebatlah dengan cara yang baik. Maka sebagai seorang dai
harus pintar melakukan metode komunikasi dakwah yang bersifat persuasif yang
bertumpu pada human oriented sehingga konsekuensi logisnya adalah
pengakuan terhadap hak- hak yang bersifat demokratis agar fungsi dakwah yang
bersifat informatif dapat diterima dengan baik. Seorang dai harus mampu
menempatkan sesuatu pada tempatnya agar mampu berbaur dengan masyarakat.
Rancangan
dakwah milenial sebagai problem solver harus mampu menjawab tantangan di
masyarakat seperti mengintegrasikan wawasan etika, estetika, logika, dan budaya
dalam berbagai perencanaan dakwah. Para dai juga harus bisa menjadi pelopor
yang propertis, humanis dan transformatif dalam mengemban dakwah yang bersifat
progresif dan inklusif.